MAKASSAR, KOMPAS.com — Harga telur ayam ras di sejumlah pasar tradisional di Makassar naik dari harga sebelumnya Rp 900 per butir menjadi Rp 1.000 per butir untuk ukuran besar.
"Harga telur ayam ras itu naik mengikuti harga sembilan bahan pokok (sembako) yang sudah naik pada pekan lalu," kata salah seorang pedagang telur di Pasar Terong, Makassar, H Dahang, Kamis (22/7/2010).
Dia mengatakan, kenaikan harga telur ras itu dipicu makin berkurangnya stok dari distributor menjelang akhir Juli ini.
Kurangnya stok telur ras tersebut, lanjutnya, karena produksi peternak telur ras juga berkurang, sedangkan tingkat kebutuhan pembeli cenderung tinggi menjelang bulan suci Ramadhan.
"Tradisi acara syukuran menjelang Ramadhan biasanya selain menggunakan menu berbahan telur, juga daging ayam dan ikan bandeng," katanya.
Kenaikan harga telur itu dibenarkan oleh salah seorang pembeli di Pasar Terong, Hasnawati.
Dia mengatakan, naiknya harga telur ayam ras, ayam potong, dan sembako sangat memberatkan masyarakat ekonomi lemah karena pendapatan mereka relatif tetap.
"Ibu rumah tangga terpaksa harus pandai-pandai mengatur kebutuhan dapur. Selain itu, harus mengajak keluarga mengetatkan ikat pinggang," kata ibu dari empat orang anak ini.
Kenaikan harga telur ayam ras yang dipicu kurangnya stok juga diakui pedagang di Pasar Pannampu, Makassar, Hj Nurbaya.
Biasanya dia mendapat jatah dari distributor sebanyak 20 rak telur per hari, kini hanya 10 rak telur karena alasan stok terbatas dan harus juga dibagi ke pengecer lainnya.
Berkaitan dengan itu, sejumlah pedagang yang ada di Pasar Pa`Baeng Baeng Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis, meminta agar pemerintah mengendalikan harga kebutuhan pokok.
Salah seorang pedagang, Mukhlis, di Makassar, mengatakan, sepertinya lonjakan harga barang kebutuhan pokok yang terjadi saat ini tidak pernah dipantau.
Sebagai pedagang, lonjakan harga yang diberikan oleh produsen tentunya makin membingungkan pedagang. "Saat ini saja, harga beras, telur, dan gula pasir sangat tinggi. Belum lagi bawang merah, bawang putih, dan cabai yang juga sangat tinggi," katanya.
Jika pemerintah tidak mengendalikan lonjakan harga ini, harga kebutuhan pokok akan terus mengalami lonjakan.
Apalagi, tidak lama lagi akan memasuki bulan Ramadan, di mana harga barang pasti akan mengalami lonjakan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang